Assalamu'alaikum, temen-temen..
Selasa, 15 September 2020 menjadi hari kedua aku menginjakkan kaki di tahun ketiga perkuliahan. Sebelum memulai kelas, seperti biasa, dosen sudah memberi bahan materi untuk dipelajari. Oke, mari sejenak kita berkontemplasi.
Kontemplasi ini diawali dengan alasanku memiliki ketertarikan pada human geography. Teringat chattingan-ku dengan temanku, Nadir, seorang Muslim Turki yang sedang menempuh pendidikan sarjana Sastra Cina di East China Normal University di tahun perkuliahan yang sama denganku. Kami sempat mendiskusikan topik apa yang sekiranya akan kami ambil jika masing-masing dari kami memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang master. Nadir memiliki ketertarikan pada bidang anthropologi (tetangga dekat geografi manusia) untuk melanjutkan studi masternya. Dan aku sempat menanyakan mengapa anthropologi menjadi pilihannya. Begini jawabnya,
Berkaitan dengan hal tersebut, pada Jumat, 28 Agustus 2020, aku dengan dua orang hebat yang Allah kirimkan untuk membersamaiku di MII (sebutan lembaga dakwah di FMIPA UI), Ambar dan Rasyid, kami berbincang ringan pada malam hari sekadar menanyakan kabar. Di sela perbincangan, aku menyelipkan sebuah pertanyaan untuk mereka, "kenapa kalian dulu mau aku ajak join di Sosmaling?". Dan kurang lebih begini jawaban Rasyid, "Rasyid tuh dulu mikir ya, Kak. Kan Rasyid di Matek (Departemen Matematika FMIPA UI), nah Matek kan rata-rata non-muslim. Jadi Rasyid ngerasa perlu nih, ada orang yang harus berdakwah di Matek. Kakak pernah denger gak, Kak? Ada ungkapan yang mengatakan bahwa setiap dari kita adalah da'i di bidang kita?".
Baik, kita kembali pada cerita tentang hari kedua perkuliahan di tahun ketiga. Ketika membuat catatan poin penting dari e-book yang diunduh dari EMAS (E-learning Management System), aku dibuat berpikir dengan satu ilustrasi gambar. Seperti ini gambarnya (btw, maaf ngeblur. Maklum, the snippet of screenshot. Semoga masih dapat terbaca, hehe)
Holistik. Bahwa ketika kita mengkaji suatu fenomena, kita tidak bisa dengan mudah menyimpulkannya hanya dengan satu sudut pandang saja. Ada banyak faktor lain yang turut memengaruhi fenomena tersebut. Rasanya, tak cukup bila hanya satu.
Kemudian saat kelas berlangsung via online dengan grup WhatsApp, aku sempat melontarkan pertanyaan kepada dosen, yang lagi dan lagi membuatku kembali berpikir. Seperti ini jawaban beliau,
Setelah kita dituntut untuk tidak memahami suatu fenomena hanya dari satu perspektif, kita kembali dihadapkan dengan tantangan bahwa ilmu dan pengetahuan selalu dinamis, yang mana seharusnya dari dua alasan itu saja dapat menjadikan kita seseorang yang tak pernah cukup dengan ilmu. Belajar, belajar, dan belajar. Itulah yang akan menjadi teman sepanjang hidup kita.
Ilmu Allah itu sangatlah luas. Jika dapat diibaratkan, ilmu Allah seperti banyaknya air di samudera. Kemudian kita celupkan telunjuk kita ke dalamnya, dan mengangkatnya kembali. Air yang menetes dari telunjuk kita, itu adalah ilmu kita. Maka sangat tidak pantas bila kita menyombongkan diri dengan ilmu dan akal kita yang terbatas.
". . . sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra: 85)
Aku bangga dengan mereka, yang di setiap pengambilan keputusan di hidupnya, selalu melibatkan keridhoan Allah di dalamnya. Seperti yang dilakukan Nadir dan Rasyid. Menjadi satu tantangan bagiku ketika Nadir berkata kepadaku,
Aku berdakwah, dengan identitasku sebagai muslim, dan peranku sebagai geograf.Sekarang aku ingin bertanya, dengan segala ilmu yang kamu miliki saat ini, sudahkah kamu tempuh sesuai dengan syariat-Nya? Sudahkah kamu mendapat keberkahan-Nya? Sudahkah menjadikanmu semakin dekat dengan penciptanya? Jika sudah, apa kamu merasa cukup? Semoga, bukan jawaban 'iya' yang aku terima.




Comments
Post a Comment