Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...
Ada perubahan drastis yang aku rasakan semenjak pandemi COVID-19 melanda. Kehidupan di dunia nyata sepertinya mulai dilupakan tatkala orang-orang mulai asik dengan kehidupan dunia mayanya. Seketika, aku jadi teringat sebuah tren yang pernah aku temukan di sosial media, personal branding namanya. Singkatnya, personal branding ini adalah sebuah upaya yang dilakukan seseorang, ingin dikenal seperti apa dirinya oleh orang lain -dalam konteks bersosial media. Upaya yang ditempuh berupa menunjukkan setiap pencapaian yang dimilikinya. Oh, bukan. Aku bukan sedang melarang kamu untuk tidak menunjukkan pencapaianmu dengan alasan akan menjadi riya. Aku tidak tertarik untuk turut ikut campur dan berasumsi tentang apa yang ada di hati orang lain. Sebuah kalimat yang pernah aku dengar dari Ustadz Oemar Mita, Setiap orang memiliki bagian amal, sebagaimana setiap orang memiliki bagian rizkinya. Maka seseorang perlu tahu, bagian amal apa yang dapat dia kerjakan untuk Islam. Mendengar itu, kemudian...