Skip to main content

Mental Illness and How to Deal with It

Assalamu'alaikum, temen-temen..


Pernah gak sih kita ngerasa kondisi mental terganggu (baca: sakit mental), yang berujung pada efek sakit fisik? Yang lebih buruk lagi hingga sakit ruhiah? Misalnya, ketika kita sedang dirasa mumet pikirannya, kita merasa nggak ada motivasi dan semangat untuk melakukan apa pun. Tidur sepanjang hari (dengan tujuan untuk tidak memikirkan dan mengingat sesuatu hal yang membuat pikiran kita mumet), yang justru malah melemahkan fisik kita karena tidak banyak melakukan pergerakan. Bahkan hingga membuat kita menjadi lalai akan target ibadah harian, nggak produktif, dan yaa.. Berakhir dengan menyesali waktu yang terbuang sia-sia seharian.

Mengutip dari kompasiana.com, menurut Dr. Jalaludin dalam bukunya "Psikologi Agama", mendefinisikan kesehatan mental dengan suatu kondisi batin yang senantiasa tenang, aman, dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan). Nah, dalam bahasa Arab kesehatan mental dikenal dengan istilah al-Sihhah al-Nafsiyah.

Biasanya apa aja sih yang jadi pemicu sakit mental ini? Menurutku, penyebabnya dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, karena banyaknya tuntutan dan kewajiban. Mungkin hal ini bisa dirasakan ketika tugas kuliah atau pekerjaan menumpuk. Bisa juga karena banyaknya job list di organisasi atau kepanitiaan yang harus segera diselesaikan. Preventif untuk kategori ini bisa dilakukan dengan perbaikan skala prioritas dan manajemen waktu bagi yang bersangkutan. Kemudian kategori yang kedua, sakit mental dapat terjadi ketika terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi ketika segala bentuk aktivitas yang mengharuskan dilakukan secara online, maka akan lebih mudah untuk menilai sesuatu yang maya daripada yang nyata. Sesederhana kita membuka ig story teman yang kumpul dan jalan-jalan di masa pandemi, aktif di sana-sini, atau teman yang mengerjakan tugas kuliah lebih dini. Kemudian reaksi yang timbul dipikiran adalah, "wah, enak ya jadi dia. Banyak temennya, sering kemana-mana, rajin banget lagi udah ngerjain tugas padahal deadline nya masih lama. Aduh! Kok rasanya gue hidup gak ada gunanya gini, ya." Tujuan awalnya sih mau menghibur diri, namun malah berujung dengan  membandingkan diri. Preventif yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengontrol emosi dan manfaatkan fitur yang tersedia di platform tersebut, seperti mute posts and stories atau restricted account. Hehe..

Baru-baru ini aku dichatting seseorang. Dan yang mengejutkan adalah..
I'm shocked! Pertanyaan "gimana kabarnya?" dan jawaban "alhamdulillaah, baik-baik aja." kadang ditanyakan  hanya sebagai bentuk formalitas saja atau memang karena lagi ada keperluan. Ungkapan "gapapa" yang diutarakan kadang punya dua kemungkinan, belum siap bercerita, atau tidak bisa dipercaya. Kesehatan mental ini nggak bisa diremehkan keberadaannya. Dari kalimat, "maaf lebay banget ya aku" diucapkan karena mereka yang kondisi mentalnya sedang tidak baik, sudah merasakan ketakutan jika dia menyampaikan, dia akan dijudge yang tidak mengenakan. Ini menjadi tugas kita untuk berusaha memberi tanpa menghakimi.

Nah, berdasarkan pengalamanku dalam menghadapi sakit mental ketika kambuh, aku menyarankan beberapa hal yang (mungkin) bisa temen-temen coba juga.

Take your time, it's a must!
Hal pertama yang aku lakukan ketika sakit mental itu datang adalah dengan mengetahui apa penyebabnya. Untuk aku pribadi, penyebab utama sakit mental itu muncul dari gadget; grup-grup kelas, kepanitiaan, atau organisasi yang meminta kita melakukan beberapa hal dalam waktu yang sama. Take your time di sini bukan berarti lari dari tanggung jawab, ya. Maksudnya, kamu perlu waktu untuk menenangkan diri. Bisa dari baca buku, jalan-jalan kecil di sekitar tempat tinggal (dengan tetap patuhi protokol kesehatan) untuk mengubah suasana suntuk, skincare-an, atau sebagai Muslim kita bisa mengingat Allah dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an dan dzikir. Karena sudah Allah yang jamin langsung bahwa ketika kita mengingat Allah, Allah akan datangkan ketenangan pada kita.

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)


Let's talk it out!

Ketika kita dirasa sudah siap untuk menceritakan kegelisahan kita pada orang lain, carilah orang yang tepat, yang kita percaya bahwa orang tersebut memang benar-benar mampu memahami kegelisahan kita. Kadang seseorang bercerita bukan butuh solusi, melainkan hanya butuh telinga untuk mendengar unek-unek yang ada. Sambil ajak jalan juga bisa. Nggak perlu jauh-jauh, karena sebenarnya yang membuat berkesan bukan kemananya, tapi sama siapanya. Kalau memang belum siap atau belum menemukan orang yang tepat untuk diajak bercerita, kadang menuliskannya di buku harian atau notes ponsel cukup efektif meringankan beban. Jika keadaannya kita menjadi objek untuk bercerita, tolong, fokus dengarkan baik-baik apa yang lawan bicara sampaikan sebagai bentuk respect. Apalagi jangan sampai merespon ceritanya dengan ucapan, "ah, elu mah kek gitu doang dipermasalahin. Baperan, lu. Kek gitu mah nggak seberapa sama masalah gue." Plis, jangan. Jahat banget asli. :( Cobalah mulai sedikit demi sedikit menjadi pendengar yang baik.


Aprecciate yourself!

Semenjak semester lima, secara tak sengaja aku menjadi ice cream addict. Awalnya entah kenapa, suatu waktu pengen makan es krim. Tapi karena jarang banget makan es krim, sempet lama banget berdiri di depan freezer hanya untuk memilih es krim mana yang sekiranya enak dimakan. Dan lama kelamaan, tiap merasa telah melalui hari yang pelik, selalu mengapresiasi diri dengan beli es krim, menikmati jalan kaki menuju minimarket tanpa membawa ponsel, memilih dan membeli es krim dengan varian berbeda. Bahkan sering termotivasi dengan ucapan, "Ayo, Yu! Kelarin dulu tugasnya. Abis itu kita pergi beli es krim." Itu hanyalah contoh bagaimana aku mengapresiasi diriku. Mungkin temen-temen yang lebih paham bagaimana melakukan self-love pada diri masing-masing.


Sekiranya itu yang bisa aku bagikan dengan temen-temen. Semoga bisa bermanfaat, dan.. Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia! :)

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...