Assalamu'alaikum, temen-temen..
Buku ini aku beli pada bulan April 2019 di toko buku dekat kampus yang sedang obral. Buku original setebal tiga ratusan halaman dengan harga tiga puluh ribu rupiah cukup menggiurkan untuk dimasukkan ke dalam kantong belanja. Buku ini sempat hanya menjadi pajangan di meja. Baru selesai dibaca pada September 2020. Bagiku, butuh effort lebih untuk membaca buku ini, karena dari bahasannya cukup 'menuntut untuk berpikir'. Yang bukannya semakin dinikmati, malah semakin membawa ke alam mimpi. Hehe
Setelah berusaha memaksa diri untuk menyelesaikan apa yang dimulai, buku ini semakin menampakkan bagian-bagian menarik, terutama pada pembahasan mengenai psikologis, pendidikan, dan konflik. Aku akan menyampaikan beberapa hal yang bisa aku pahami dari buku ini, namun bukan dalam konteks membandingkan antara Asia dengan Barat mana yang lebih baik, melainkan bagaimana korelasi karakter masyarakat Asia yang dijelaskan dalam buku ini dengan realita lingkungan yang aku amati sebagai orang Asia.
Pengendalian secondary control oleh komunitasnya
Secondary control merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengatur keadaan mental, emosi, dan motivasi. Masyarakat Asia dinilai kolektivis, memberikan penekanan lebih besar terhadap kelompok sosial dibandingkan individu. Mereka akan cenderung untuk bersepakat dengan apa yang dikatakan dan dilakukan kelompoknya. Dalam hal ini konfusianisme berperan dalam pembentukan konatif masyarakat Asia. Akibatnya, orang Asia lebih berhati-hati saat berbicara karena menganggap hal tersebut adalah kebaikan. Selain itu, orang Asia lebih mudah untuk merasakan simpati dan bersikap peduli.
Namun, jika pengaruh kelompok sosial terlalu kuat dalam seorang individu, maka akan mengakibatkan individu tersebut kurang memiliki jati diri dalam berbaur. Sebagai contoh, aku kurang prefer ketika dalam tugas kelompok perkuliahan harus menentukan sendiri. Karena mereka pasti akan memilih orang-orang yang membawa mereka pada rasa 'nyaman' dan 'aman'. Padahal hidup tidak seideal itu. Jika itu yang terjadi, mereka kehilangan kesempatan untuk mendapat peluang memanajemen emosi dan aksi dalam menyikapi orang-orang seharusnya mereka hindari.
Cerdas dalam Ujian
Salah satu ungkapan yang paling unik dalam buki ini. Terdapat istilah pendekatan kiasi, yaitu sikap menolak kegagalan dan akan menghindarinya DENGAN CARA APA PUN. Mereka menjadi tidak memiliki kesempatan untuk mengalami dan belajar dari kesalahan. Menghindari risiko pada akhirnya akan diikuti dengan sikap toleransi yang rendah terhadap kegagalan.
Mungkin ada dari kita sering mendengar istilah "kerjakan lalu lupakan". Menurutku hal yang seperti itu kurang bijak. Apa berarti selama ini motivasi kita dalam menuntut ilmu tidak benar-benar untuk mencari ridha Allah? Tapi sekadar dapat melalui ujian dengan lulus saja sudah cukup. Tanpa peduli ilmu itu akan pergi atau menetap. Padahal ilmu itu adalah yang diamalkan dan ilmu menjadi salah satu hal yang kelak akan Allah tanyakan kebermanfaatan-Nya.
Cenderung Menghindari Konflik
Secara pribadi aku sangat mengakui pernyataan ini. Orang Asia cenderung menghindari konflik karena menganggap bahwa konflik adalah sesuatu yang dinilai negatif. Hal ini sangat erat dipengaruhi oleh upaya mereka mempertahankan relasi (guan-xi) dan menjaga citra (mian-zi). Keduanya ini saling keterkaitan. Contohnya adalah ketika orang Asia menahan diri untuk mengoreksi perkataan temannya di depan banyak orang. Mungkin ini sama halnya adab seorang Muslim ketika ingin menasihati orang lain memanglah sebaiknya tidak dilakukan di tempat umum, karena hal ini menjadi salah satu bentuk menghargai nama baik yang bersangkutan. Pun juga, tidak selamanya konflik itu menjadi hal yang negatif dan tak mungkin dihindari, asal kita tahu bagaimana menempatkan dan menepatkan, InsyaAllah konflik akan menjadi evaluasi untuk tidak mengulanginya lagi.
Oke, aku kira cukup untuk insight yang aku dapat dari buku ini. See you next time in the others book's insight!

Comments
Post a Comment