Skip to main content

Terlalu Lelah Mengejar Standar Manusia

Assalamu'alaikum, temen-temen..


Puisi tersebut adalah karya dari seorang penyair Indonesia, Joko Pinurbo, dalam bukunya yang berjudul "Selamat Menunaikan Ibadah Puisi". Membacanya, terasa begitu melelahkan ya jika kita mengikuti standar kriteria ideal buatan manusia? Kita akan berusaha mengejarnya dengan sekuat tenaga. Padahal, satu standar saja belum terpenuhi, eh sudah berganti lagi.

Kapitalistik, lebih menghargai daya jual daripada martabat wanita, memberikan legalitas atas eksploitasi tubuh perempuan demi iklan, hiburan, serta industri seks dan kecantikan. Melalui brand ambassadornya, menyihir setiap orang dengan menciptakan standar bahwa wanita cantik adalah yang seperti ini. Putih, langsing, tinggi jenjang, dan berambut panjang. Lalu menjadikannya gaya hidup yang pemenuhannya menjadi sebuah keharusan. Sepertinya definisi cantik tak sesempit hanya dari fisik saja, kan? Akhirnya, wanita dianggap murah, hanya dijadikan 'alat' sebagai penghasil rupiah.

Begitulah kiranya, jika kita memusatkan perhatian pada penilaian manusia. Tidak ada yang salah jika memang tujuan merawat diri sebagai upaya menjalankan amanah pemberian dari Yang Maha Menciptakan.

Namun, jika insecure dan overthinking yang terjadi, sepertinya kamu hanya membebani diri sendiri. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah berhenti. Berhenti mencari dan memenuhi cacatnya standar manusia sebagai bentuk pencapaian diri.

Memang benar ungkapan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa jika kita tidak disibukkan dalam hal kebaikan, maka Allah akan sibukkan kita dengan kebatilan.

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...