Assalamu'alaikum, temen-temen..
Kali ini aku akan bahas mengenai self-awareness, yang aku yakin temen-temen sudah tidak asing mendengar istilah tersebut. Jadi, sebenarnya apa sih self-awareness itu? Sederhananya, self-awareness adalah suatu upaya seseorang dengan kesadaran penuh memfokuskan perhatiannya pada pikiran, perasaan, dan perilaku serta dampaknya pada orang lain. Menurut Dr. Tasha Eurich, seorang psikolog organisasi, menyebutkan bahwa ada 7 pilar pembentuk self-awareness; values (prinsip yang membimbing diri), passions (hal yang senang dilakukan), aspirations (hal yang ingin dialami dan dicapai), fit (lingkungan seperti apa yang dibutuhkan untuk dapat terlibat dan bahagia), patterns (cara berpikir, cara merasakan, dan cara berperilaku yang konsisten), reactions (pikiran, perasaan, dan perilaku yang mengekspresikan diri) dan impact (dampak bagi orang lain). Keuntungan jika kita sudah memiliki self-awareness dapat menjadikan kita orang yang lebih percaya diri, lebih kreatif, mampu membuat keputusan yang lebih baik, membangun hubungan yang lebuh kuat, mampu berkomunikasi dengan lebih efektif, dapat memaksimalkan potensi, dan yang paling penting adalah ketika dapat lebih mengenali Tuhannya.
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."
(QS. Al-Hashr [59]: 19)
Nah, tapi apakah temen-temen tahu bahwa self-awareness dibedakan menjadi dua jenis, yaitu internal self-awareness dan external self-awareness? Internal self-awareness adalah bagaimana kita memperkenalkan diri di hadapan publik. Sedangkan external self-awareness adalah realitas bagaimana sebenarnya orang lain mengenal diri kita. Dan ini hampir serupa dengan personal branding. Ada empat pembagian self-awareness dari Dr. Tasha Eurich yang bisa kita liat pada gambar di bawah ini.
![]() |
Berkaitan dengan personal branding, Teh Qoonit melalui channel podcastnya, Cerita Lewat Cinta, menyampaikan ada tiga nilai ketika ingin membangun personal branding perempuan.
Pertama adalah akhlak.
Seperti yang telah diketahui bahwa seorang muslimah telah ditakdirkan untuk memiliki sifat rahmah dan penyayang, yang ditandai dengan rahim yang Allah titipkan pada perempuan. Ia juga mampu untuk memanajemen waktu dan memanajemen hidup dengan baik. Dan yang paling penting, seorang muslimah haruslah memiliki rasa malu dan menjaga kehormatan serta harga dirinya.
Kedua, skill.
Skill inilah yang akan membedakan tiap-tiap perempuan. Skill yang ingin dikuasai harus didalami dan ditekuni. Kita yang menentukan bidang apa yang ingin dimiliki.
Dan ketiga, nilai.
Nilai ini harus dikaitkan dengan skill, tidak boleh berdiri sendiri. Untuk mengetahuinya, kita bisa memulai bertanya hal ini pada diri sendiri. Kenapa harus memiliki skill ini? Landasan apa yang menjadikan kita bergerak? Jangan sampai skill yang kita miliki tidak memiliki sebab yang jelas. Terlebih jika tidak meniatkan untuk beribadah dan memberi manfaat.
Nah, sedikit-banyaknya aku akan memberi tips bagi temen-temen yang ingin mengetahui external self-awareness. Cara yang paling sederhana adalah, kalian bisa tanya ke temen-temen kalian bagaimana mereka menilai diri kalian. Bisa bertanya langsung atau lewat question box instagram begini.
Dan mendapat respon begini.
Aku juga membagikan pertanyaan tersebut di snap WA, mendapatkan jawaban seperti ini.
Cara yang kedua adalah dengan membuat G-form bagaimana orang lain mengevaluasi diri kita. Masih teringat pada webinar dengan pembicara Kak Edy Fajar, beliau menyampaikan dua hal penting ketika ingin menerapkan growth-mindset, yaitu dengan selalu merasa bodoh sehingga kita akan selalu mencari dan memperlajari apa-apa yang belum diketahui, dan mau menerima kritik dan evaluasi sebagai upaya memperbaiki. Sejak awal semester tiga (2019), aku membuat (boleh silahkan diisi jika berkenan) evaluasi pribadi yang bisa diakses pada bit.ly/EvaluasiYayu (temen-temen juga dipersilahkan untuk mengisi jika berkenan) berisi pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan kebutuhan untuk mengevaluasi. Tapi pastikan pertanyaan yang diajukan bersifat objektif ya -walaupun jawabannya akan cenderung subjektif secara personal seseorang-, jangan pertanyaan yang nyenengin diri sendiri aja, tapi pertanyaan yang kemungkinan jawabannya bisa men-trigger diri. Pengisi form sengaja dibuat anonim, karena banyak sekali orang yang ingin memberi masukkan pada orang lain tapi terhambat pada rasa 'nggak enakan'. Maka biar lebih enakan, lebih baik identitasnya disampaikan. Biasanya aku sebarkan link G-form di grup-grup yang pernah berkepentingan dengan aku, entah grup kerja kelompok, grup organisasi, atau grup kepanitiaan. Dan aku pilihkan sedikit jawaban-jawaban menarik yang ingin aku bagikan di sini.
Kumpulan jawaban-jawaban tersebut, jika telah mencapai kejenuhan (kebanyakan jawaban hampir serupa), kira-kira seperti itulah sebenarnya orang lain mengenal diri kita seperti apa.
Pada akhirnya, yang ingin kusampaikan adalah, ketika kita diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain, yang perlu kita evaluasi pertama kali adalah diri kita. Kita tidak akan pernah bisa mengendalikan perasan dan perilaku orang lain. Maka, satu-satunya orang yang dapat kita kendalikan adalah diri kita sendiri.















Comments
Post a Comment