Assalamu'alaikum, temen-temen..
Kalimat dalam judul blogpost ini didapatkan pada sebuah pesan dari aplikasi Telegram.
Sadar tidak sadar, semakin bertambahnya usia, semakin sering kita membandingkan diri dengan kehidupan manusia yang lainnya.
Kita melihat kebanyakan dari teman sebaya -atau yang lebih muda- sudah mandiri secara finansial dan berjaya, dapat berkelana ke mana-mana, hingga menggenapkan separuh agamanya.
Kemudian, kita merasa hidup kita menjadi no-life sambil bergumam, "Jadi dewasa kok rasanya begini amat, ya? Berguna kagak, jadi beban orang tua iya."
Lalu, dalam lamunan yang panjang, kita kembali bergumam, "Seandainya aku dilahirkan dengan kondisi good looking, pasti aku akan disegani banyak orang. Seandainya aku dibesarkan dari keluarga dengan harta berlimpah, pasti perjalanan hidupku akan jauh lebih mudah."
Sebenernya mau mastiin dulu, nih. Sejauh ini masih punya rasa malu sama Allah, kan? Masih takut sama azab Allah, kan?
Kok kamu sombong, sih? Seolah kamu lebih tau apa yang terbaik untukmu dibandingkan Allah. Bukannya sama kasusnya seperti iblis yang sok merasa lebih tahu bahwa dirinya lebih baik dari Nabi Adam a.s ketika diminta sujud oleh Allah?
Masing-masing dari kita percaya bahwa Allah itu tidak akan pernah berlaku dzalim terhadap hamba-Nya. Setiap manusia yang lahir ke dunia telah Allah beri potensi yang berbeda. Bagi kita yang meminta surga kepada-Nya, jangan heran ketika kita akan diuji oleh-Nya. Itu adalah konsekuensi dari pengakuan iman kita. Kita tidak berhak mengatur Allah atas bentuk ujian yang akan kita terima. Allah yang tahu bagaimana kapasitas diri kita, sehingga Allah pilihkan ujian yang Dia mampukan kita untuk melewatinya.
Ada orang yang diuji dari finansialnya. Maka ketika dia sudah bisa makan daging saja termasuk dalam nikmat yang luar biasa. Ada yang diuji melalui keluarganya. Maka ketika dia bisa menghabiskan satu hari penuh bersama keluarganya, rasa syukur selalu terucap dari lisannya. Jadi, mengapa sering kali kita seolah menuntut kepada-Nya untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama? Daripada kita mengkhawatirkan rezeki yang telah ditetapkan-Nya, bagaimana jika kita memfokuskan diri pada urusan yang Allah perintahkan saja? Bukankah itu terdengar lebih menenangkan di telinga?
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonkanlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. An-Nisa': 32)
Jadi sebelum mem-blame bahwa Allah tidak adil, coba muhasabah diri dulu. Jangan-jangan selama ini kita cuma bisa menyibukkan diri bermain sosial media dibanding memperbanyak waktu mensyukuri nikmat-Nya. Toh, paling yang kita anggap tidak adil itu hanya perkara materi dan duniawi. Padahal dunia itu bukan tujuan hidup umat Muslim, melainkan surga di akhirat nanti.
Ya, nyatanya hidup bukan hanya soal kompetisi untuk jadi lebih superioritas dari yang lain. Because everyone has their own timeline. Therefore, keep enjoying your moments in reaching His blessing.

Comments
Post a Comment