Mungkin ada di antara kita pernah dihadapkan pada satu masalah, yang pada awalnya kita pikir sulit untuk kita melewatinya. Kemudian dengan penuh harap, kita berdoa kepada-Nya.
Saat itu, setiap kebaikan-Nya melekat dalam hati kita. Kita amat sangat percaya bahwa Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Penolong, dan bagaimana Dia adalah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.
Tetapi, ketika perasaan futur dan insecure itu muncul, kita mulai meragukan kemampuan diri kita.
"Ya, Allah. Bisa nggak, ya?", begitulah gumam yang terdengar dalam hati kecil kita.
Hingga akhirnya hari itu tiba, kita kembali percaya, bahwa kita bisa melewati masalah yang ada karena Allah PASTI akan memampukan kita. It always seem possible until it's done.
Harap dan cemas, adalah kolaborasi yang sempurna tatkala kita meminta kepada-Nya.
Dalam waktu yang sama, kita tengah mengagungkan Tuhan sekaligus melemahkan diri sebagai seorang hamba.
Sadar tidak sadar, kita sedang mendalami pemaknaan diri dari seorang Muslim; berserah diri.
Karena memang sudah selayaknya menjadi manusia, adalah bergantung kepada pencipta-Nya.
Emang, sih. Kadang suka malu karena selalu minta lagi dan lagi.
Padahal rasanya, untuk berhenti dari perbuatan maksiat kepada-Nya saja masih sulit.
Tapi bukan Allah namanya kalau semakin banyak kita meminta, semakin banyak -dan lebih- pula Dia memberi.
Jangan khawatir, Tuhan kita Maha Pengasih dan Penyayang, kok.
Allah nggak akan pernah lelah memberi, sampai kita sendiri yang lelah meminta kepada-Nya. :)
"Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami." -- QS. 21: 90.

Comments
Post a Comment