Skip to main content

Believe in What You Prayed for




Mungkin ada di antara kita pernah dihadapkan pada satu masalah, yang pada awalnya kita pikir sulit untuk kita melewatinya. Kemudian dengan penuh harap, kita berdoa kepada-Nya.

Saat itu, setiap kebaikan-Nya melekat dalam hati kita. Kita amat sangat percaya bahwa Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Penolong, dan bagaimana Dia adalah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

Tetapi, ketika perasaan futur dan insecure itu muncul, kita mulai meragukan kemampuan diri kita.
"Ya, Allah. Bisa nggak, ya?", begitulah gumam yang terdengar dalam hati kecil kita.

Hingga akhirnya hari itu tiba, kita kembali percaya, bahwa kita bisa melewati masalah yang ada karena Allah PASTI akan memampukan kita. It always seem possible until it's done.

Harap dan cemas, adalah kolaborasi yang sempurna tatkala kita meminta kepada-Nya.
Dalam waktu yang sama, kita tengah mengagungkan Tuhan sekaligus melemahkan diri sebagai seorang hamba.
Sadar tidak sadar, kita sedang mendalami pemaknaan diri dari seorang Muslim; berserah diri.
Karena memang sudah selayaknya menjadi manusia, adalah bergantung kepada pencipta-Nya.

Emang, sih. Kadang suka malu karena selalu minta lagi dan lagi.
Padahal rasanya, untuk berhenti dari perbuatan maksiat kepada-Nya saja masih sulit.
Tapi bukan Allah namanya kalau semakin banyak kita meminta, semakin banyak -dan lebih- pula Dia memberi.
Jangan khawatir, Tuhan kita Maha Pengasih dan Penyayang, kok.
Allah nggak akan pernah lelah memberi, sampai kita sendiri yang lelah meminta kepada-Nya. :)

"Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami." -- QS. 21: 90.

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...