Skip to main content

Share OUR experiences with the world!



Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah postingan kiriman ke sebuah grup facebook yang saya ikuti. Postingan tersebut dikirim oleh seorang non-Muslim berkebangsaan Amerika yang tengah tinggal di Jepang. Satu yang menarik perhatian saya untuk membubuhkan tanda jempol dan sedikit komentar untuk mendukungnya adalah ketertarikannya untuk mulai mempelajari Islam.

Dia cukup banyak mengirimkan beberapa postingan. Pada satu postingannya yang lain, saya sedikit terlibat diskusi dengannya mengenai bagaimana media Amerika mencitrakan keburukan terhadap Islam, yang menurutnya tidak make sense dengan Islam yang sebenarnya.


Pesan yang saya dapatkan darinya adalah agar kita "share our experiences to the world!"
Mengingat di zaman modern seperti sekarang, peran sosial media sangat besar. Propaganda yang dibuatnya mampu menipu miliyaran isi kepala orang-orang yang melihatnya, terlebih pelakunya adalah mereka yang adidaya.

Menurut yang saya amati, beberapa orang cenderung akan mengeneralisir sesuatu hanya berdasarkan pengalamannya. Pernah mendengar ucapan seorang perempuan yang bilang, "semua cowok sama aja!"? Itu adalah contohnya hehe.. Padahal ya, tidak semua perempuan memiliki pengalaman bersama lelaki yang buruk attitudenya kepada perempuan. TIDAK SEMUA..

Maka menjadi penting untuk kita berbagi pengalaman kepada dunia, walaupun hanya by word of mouth for person to person who can we count with the fingers. Tujuannya adalah, agar kita dapat menampik informasi yang kita dapatkan dari "katanya" dengan kenyataan yang sebenarnya.

Ketika hampir sebagian orang menghabiskan waktunya melalui internet, banyak berita-berita berseliweran di layar kaca. Propaganda, hoax, hate speech, bahkan pengalihan isu dapat terjadi dengan mudahnya. Sayangnya, sekarang, kebebasan untuk berbicara dan berpendapat sepertinya tidak sepenuhnya ada. Mengingat kejadian ketika Syeikh Jarrah di Palestina dijajah oleh Israel saat menjelang Idul Fitri yang lalu, banyak akun-akun yang postingannya dihapus dan dibanned oleh instagram dan facebook. I mean, sepertinya kita tengah dipaksa untuk bungkam dalam menyatakan kebenaran. Mengkritik pemerintah di sosial media saja harus merasakan dulu ngeri-ngeri sedap untuk mempostingnya. Padahal katanya sih Indonesia itu negara yang demokrasi. Mungkin warga Indonesia disuruh nonton sinetron dan joget di tiktok saja kali ya? Demokrasi kita hanya ketika pemilu, sisanya nggak usah ikut campur ngurusin politik dan pemerintah. Kamu tuh nggak ngerti! Nggak ngerti kepentingan mereka maksudnya hehe..

Udah deh, malah jadi julid. Intinya, yang ingin saya sampaikan, sampaikan kebenaran dengan cara apa pun yang kita mampu melakukannya. Mereka yang berusaha menyembunyikan kebenaran yang nyata, sekali pun menang, kemenangannya di dunia hanyalah sementara. Dan dunia, bukanlah tujuan orang-orang mukmin. Tujuan seorang mukmin adalah kembali ke awal tempat tinggalnya; surga.


Depok, last weekend on June 2021
with the ruhiah is feeling good, but not for the mental too..


Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...