Ceritanya, semalam saya membaca tulisan di laman web yang sering saya kunjungi. Tulisan dari web ini cukup mindblowing buat saya. Penulis di laman web tersebut memberi banyak persepsi saya terhadap privatisasi sosial media. Mungkin ada saatnya ketika seorang ekstrover belajar kepada introver, ya? Hehe
Malam itu juga saya berusaha decluttering sosmed dan isi ponsel saya. Karena beberapa kali pernah menjadi humas di kepanitiaan, ternyata saya cukup banyak menyimpan kontak-kontak yang hanya diperlukan untuk sekali menghubungi. Bahasa kasarnya sih "nyampah".
Saya selalu merasakan kesenangan pribadi ketika berhasil merapikan isi galeri, following, kontak, chatting, dan spam email. Sebuah pekerjaan sederhana, namun cukup menguras waktu. Ketika decluttering tersebut saya memutuskan untuk memprivasi akun sosmed yang saya punya. Namun sedikit merasakan kegelisahan untuk melakukannya pada instagram mengingat potensinya sebagai wadah untuk berdakwah. Akhirnya, saya menanyakan pendapat seorang kawan saya untuk meyakinkan diri, dan begini jawabnya,
"Menurutku, jangan diprivate. Kamu seleksi aja mana postingan yang bisa dibaca orang dan mana yang sebaiknya diarsip. Niatkan postingan yang gak diarsip itu sebagai dakwah. Kita tetep perlu ninggalin jejak digital. Tapi harus dipastikan jejak itu dalam konteks kebaikan. Balik lagi ke niat dakwahnya."
Dan jawaban dia sudah sangat cukup untuk meyakinkan diri saya. Dari yang saya amati, beberapa orang yang tidak memiliki ruang untuk berbagi di dunia nyata cenderung menjadikan sosial media sebagai ruang pelariannya. Apa saja dishare di sosial media. Saya sendiri cenderung menghindari untuk mengeluh atau menceritakan plan pribadi di sosial media. Karena ya buat apa. Tidak semua segmen dalam hidup saya harus jadi konsumsi orang lain. Toh kalo pun saya cerita, belum tentu juga mereka punya itikad baik untuk membantu.
Saya cuma pengen ngasih pemahaman ke diri saya, bahwa tidak semua kebahagiaan yang saya punya harus diexpose di sosial media. Terlebih yang melihat adalah orang-orang yang secara personal tidak saya kenal. Selain itu, saya juga meminimalisir iri dengki pada orang lain atas kenikmatan yang saya dapatkan.
Kita sering mendapati orang-orang yang bebas memposting apa saja di sosial medianya dengan alasan, "yaudah, kalo gak suka ya tinggal unfollow atau block aja. Akun-akun gue, kenapa jadi lu yang repot". Menurut saya sih, bijak bersosial media itu nggak bisa dibebankan pada satu orang saja. Harus ada kesalingan untuk menjaga antarsesama penggunanya. Karena tidak semua orang dikaruniai hati yang bersih untuk melihat postingan-postingan kita. 😁
Depok,
end of Thursday on June 2021

Comments
Post a Comment