"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada kepada manusia." -- Ali bin Abi Thalib
Salah satu prinsip yang saya pegang -dan beberapa kali saya ceritakan pada orang lain- bahwa saya sama sekali tidak akan mempercayai seseorang 100%. Walaupun mungkin saja persentase saya mempercayai satu orang dengan orang lainnya adalah berbeda. Alasannya sih, saya malas untuk menghabiskan energi "lagi" hanya untuk merasa kecewa pada seseorang karena ekspektasi saya yang terlalu besar kepadanya.
Pernah punya pengalaman dekat dengan seorang teman yang memiliki karakter cenderung sensitif. Singkatnya, tanpa sengaja saya berbuat salah karena satu kealphaan. Dia beberapa hari mendiamkan saya. Sebenarnya saya merasa sedang diperlakukan demikian, tapi karena saat itu sedang merasa kewalahan, sehingga tidak begitu peduli. Beberapa kali saya kepikiran, "Saya salah apa ya ke dia? Kok didiemin?" Jujur, dibayang-bayangi rasa bersalah menjadi satu hal yang bagi saya sangat menguras energi saya untuk sesuatu yang sebenarnya kurang penting. Kan kita punya opsi untuk mengatakan secara langsung daripada ngambek diem-dieman. Saya sendiri tipe orang yang straight to the point, kebenaran dan kesalahan harus tetap disampaikan sekali pun itu pahit. Menurut saya, semakin kita menjadi dewasa, bukan lagi masanya untuk berbohong hanya untuk menyenangkan orang lain. Gimana ya, soalnya prioritas hidup saya nggak hanya memikirkan dan menebak-nebak kesalahan saya padanya.
Alhamdulillaah, masalahnya sudah clear. Kami sudah saling memaafkan meskipun hubungan kami tidak kembali seperti semula. Paling tidak, dari kejadian tersebut saya mulai mengetahui dan mengeksplor karakter orang yang sesuai dan tidak sesuai untuk mereka mencampuri hidup saya lebih banyak dan lebih lama. Oleh karena itu, saya cenderung selektif memilih teman dekat dan paling tidak percaya dengan opini "temenan mah sama siapa aja." No, babe.
Kembali ke topik. Mungkin penyebab utama kita kecewa adalah karena ketika ada seseorang yang membantu kita, dari situ muncul harapan bahwa di kemudian hari orang tersebut akan kembali membantu kita. Dan ketika hal tersebut tidak dapat dipenuhi, kita yang akan kecewa, bete, dsb. Saya menanamkan pemikiran pada diri saya, bahwa seseorang bisa saja hari ini membantu, tapi tidak mungkin selalu. Mereka juga memiliki masalah hidupnya sendiri yang harus dicari solusinya. Kalau hari ini mereka bisa membantu, ya sudah, cukup untuk hari ini saja. Jangan berharap lagi besok atau lusa mereka akan membantu kita. Jangan biasakan bergantung kepada orang lain untuk menyelesaikan masalah diri kita sendiri.
Sebenarnya sih, kuncinya adalah dengan kita mengenal diri kita sendiri. Bagaimana potensi kita, seperti apa kekurangannya, berapa kapasitasnya. Jadi, ketika ada orang lain meminta tolong pada kita misalnya, dan kita merasa masih banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan, maka minta maaflah dan just say "NO". Jangan sampai perasaan bahagia kita direnggut oleh orang lain hanya karena kita merasa tidak enakan pada mereka, yang mana justru akan membebani diri kita. Ya kalau memang setelah kita say "NO" dia bete atau ngambek ke kita, tinggalin aja. Teman yang baik harusnya mengerti kondisi kita. Lagian memangnya dia siapa di hidup kita, keinginannya harus selalu kita penuhi?
Sederhananya adalah, kenali dulu kebutuhan kita dan prioritasnya. Jadi, ketika dihadapkan pada kondisi tertentu, kita menjadi lebih tau bagaimana bersikap. Untuk hal apa kita tegas pada diri sendiri dan orang lain, dan untuk hal apa kita harus cuek dan bodo amat. Menurut saya itu akan sangat membantu mengalokasikan untuk apa energi kita dikeluarkan. Mencegah perasaan kecewa adalah dengan berhenti berharap kepada manusia.
Nah, dari sini saya membalikkan perspektif, bahwa saya pun bukan menjadi prioritas di hidup orang lain. Sebisa mungkin, saya berusaha menyelesaikan masalah saya sendiri. Apa pun itu. Termasuk ketika demot, stres, dan futur, saya berusaha mencari copingan yang bisa saya lakukan sendirian.
Pada intinya, saya tidak mau orang lain mengintervensi hidup saya. Saya yang sepenuhnya mengontrol prinsip, motivasi, alokasi energi, rasa syukur, dan rasa bahagia yang saya miliki. Kalau orang lain merasa keberatan dengan apa-apa yang telah saya tetapkan sebagai standar hidup, silahkan pergi saja. Toh, saya juga tidak butuh untuk disibukkan dengan orang-orang yang hanya bisa membebani dan menghambat progress hidup saya pada sesuatu yang bukan menjadi prioritas saya. Memangnya kamu pikir kamu siapa?
Brebes, July 10th, 2021
~ on the rain during the day

Comments
Post a Comment