Skip to main content

How is Your Feel Being an Altruistic Person?



Saat berselancar di pinterest.com menemukan ilustrasi tersebut dan merasa sangat tergelitik ketika membaca tiap kalimatnya. Sambil tertawa kecil, dalam hati saya bergumam, "Ini gue bangetttt! :D"

ENFJ adalah hasil MBTI yang saya dapatkan saat pertama kali tahu (tepatnya pada tahun 2019) tentang tes kepribadian ini. Setiap tahun saya mengulang tes untuk mendapat updatenya, dan karakter protagonist selalu muncul di halaman hasil. Pendapat saya tentang hasil tes MBTI, MBTI atau tes psikologi lainnya memang tidak 100% menentukan kepribadian seseorang. Tapi, untuk personal diri saya, tes tersebut adalah tools untuk mengenali diri sendiri. Saya yakin, pada beberapa orang masih banyak yang belum mengenali dirinya sendiri, seperti kelebihan dan kekurangannya. Jadi, tes ini cukup membantu untuk mengarahkan minat dan potensi kita bagaimana. Saya sendiri memang merasa sebagian besar deskripsi dari ENFJ sesuai dengan apa yang saya rasakan. Namun, sebisa mungkin jangan menjadikan hasil tes psikologi sebagai bounderies dalam memperbaiki diri. Misalnya ada yang mengatakan kita emosional, kemudian kita beralibi, "Terus kenapa kalo gue emosional? Gue kan INFP." Ini misal lho, yaaa.. Jadi balik lagi ke fungsinya, hasil MBTI itu yang akan ter-update mengikuti perkembangan diri kita, bukan kitanya yang justru mandeg berprogress hanya karena ingin stay pada salah satu hasil tesnya.

Okay, back to the topic! Altruistik adalah salah satu karakter yang dimiliki oleh seorang ENFJ. Apa itu altruistik? Just ask Mr. Google hehe..




Itu adalah contoh chat dari beberapa teman yang masih tersimpan. Saya sangat menikmati waktu ketika saling bertukar pikiran dengan orang lain. Setiap ada orang lain yang mempercayakan dirinya untuk berbagi cerita dengan saya, saya pun turut merasakan bahwa keberadaan saya berharga meski hanya untuk orang-orang terdekat saya. Saya mengharapkan diri saya agar mampu menolong orang lain walaupun hanya sekadar mencoba menjadi pendengar yang baik. Jika mereka meminta pendapat atau nasihat, saya coba memberi dari apa yang saya ketahui.

Tapi, menjadi altruistik tak selalu semenyenangkan itu dalam mendengar keluh-kesah orang lain. Pernah ada senior laki-laki di kampus, ketika dia tahu bahwa saya cukup terbuka mendengarkan orang lain, beberapa masalah pribadinya diceritakan kepada saya. Saya merasa tidak begitu dekat dengannya dan sebatas pernah dalam satu organisasi saja. Yang paling saya tidak suka darinya adalah adabnya dalam bercerita.
Pertama, tidak meminta izin. Berbeda dengan teman-teman yang lain yang mengucap salam terlebih dulu dan menyampaikan tujuannya. Untuk saya hal ini penting karena menjadi sinyal bagi diri saya untuk mengumpulkan energi sehingga akan merasa jauh lebih siap untuk mendengarkan. Si senior ini beberapa kali me-reply story instagram dan whatsapp saya, masih saya ladenin karena masih biasa saja. Tapi lama-kelamaan mulai agak sedikit kelewatan dengan ujug-ujug mereply langsung cerita panjang lebar, padahal kondisi saya saat itu mungkin sedang tidak baik-baik saja. Belum lagi, ketika saya pelan-pelan memberi solusi dari permasalahan yang dia ceritakan, hampir tidak pernah digubris dengan mengatakan "percuma", padahal dicoba saja belum. Jadinya terkesan mau didengarkan, tapi tidak mau mendengarkan. Orang-orang yang seperti ini hanya menambah beban emosi saya. Dia yang punya masalah, saya kasih solusi yang bisa saya kasih tidak diterima, kenapa saya harus ikutan pusing memikirkan masalah hidupnya? Dia pun bukan salah satu orang yang masuk dalam list prioritas saya. Padahal saya juga punya masalah hidup sendiri yang harus diselesaikan.
Kedua, terlalu sering merendah untuk meroket. Menurut saya, tidak perlulah merendah-rendahkan kelebihan yang dimiliki sehingga terkesan mencari atensi. Orang lain juga akan tahu kelebihanmu tanpa harus kamu menceritakannya.
Ketiga, terlalu sering mengeluh. Banyak mengeluh tapi sedikit aksi. Dikasih solusi sama sekali belum pernah dicoba sudah bilang percuma. Dan ini persepsiku sebagai perempuan, entah mengapa ketika mengetahui laki-laki yang hobi mengeluh, sudah hilang sisi kewibawaan dan karismatiknya. You are not like a gentle man anymore.

Akhirnya, kewarasan saya memberi kode untuk membatasi hubungan dengan orang yang demikian. Langkah yang paling mungkin dilakukan adalah dengan menghapus nomornya, mute story and post serta restrict akun instagramnya. It's helpful.

Kita sering kali mendengar bahwa ketika menasihati orang lain haruslah memiliki adab agar tidak sampai menyinggung atau menyakiti. Tapi kita lupa, bahwa mereka yang ingin meminta nasihat juga perlu menggunakan adabnya agar yang mendengarkan juga merasa nyaman. Yang saya butuhkan adalah komunikasi secara asertif, bukan agresif. Dan menurut saya, tidak perlu merasa bersalah ketika memang kita ingin menjauh dari orang-orang yang membuat kita tidak nyaman berada di dekatnya, terlebih jika orang tersebut tidak berarti besar dalam hidup kita. 

Depok, August 30th, 2021
~Your mentality is your priority :)





Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...