Setiap manusia akan Allah uji dengan sedikit ketakutan. Ketakutan kehilangan seseorang, ketakutan akan masa depan, ketakutan akan hasil yang tak sesuai keinginan, dan ketakutan-ketakutan lainnya yang sering kali menghampiri dan merenggut ketenangan.
Terlihat membisu terdiam, nyatanya sedang beradu dalam pikiran. What you think, is what you feel. Negative thoughts, will produce negative feelings.
Dari segala kenikmatan yang ada di dunia, ketenangan menjadi salah satu yang paling diinginkan manusia. Ketenangan hakiki dapat hadir dari jiwa yang mengingat Rabbnya. Mempercayai janji-Nya bahwa bersamaan dengan kesulitan, selalu ada kemudahan. Bahwa setiap manusia tak pernah diberi ujian di luar batas kemampuannya.
Beruntungnya menjadi seorang Muslim adalah, kita diajarkan bahwa salah satu cabang dari keimanan itu mempercayai qada dan qadar; setiap ketetapan, memiliki ukuran.
Kita diajarkan, bahwa setiap urusan seorang Muslim itu baik. Jika kita mendapat kebaikan lalu kita bersyukur atasnya, maka itu baik bagi kita. Namun jika kita mendapat keburukan lalu kita bersabar atasnya, maka itu juga baik bagi kita.
Kita diajarkan untuk mengucapkan, "Alhamdulillaah 'ala kulli haal", pada sesuatu yang -qadarullaah- di luar kuasa kita. Kita diperintahkan untuk tetap mengagungkan-Nya bahwa, "Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."
Sampai akhirnya aku menyadari bahwa, sumber ketenangan hati dan ketentraman jiwa adalah datang dari perasaan merasa cukup atas qada dan qadar yang kita terima. Kita bersabar dalam derita, tak lupa juga bersyukur dalam nikmat.
Pantaslah kemudian ketenangan disebut sebagai penambah keimanan atas keimanan.
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." -- QS. Al-Fath [48]: 4
Depok, 14 Desember 2021
~It's just a bad day, girl. Not a bad life. :)

Comments
Post a Comment