Skip to main content

Should I Take My Negative Thoughts Seriously?


Setiap manusia akan Allah uji dengan sedikit ketakutan. Ketakutan kehilangan seseorang, ketakutan akan masa depan, ketakutan akan hasil yang tak sesuai keinginan,  dan ketakutan-ketakutan lainnya yang sering kali menghampiri dan merenggut ketenangan.

Terlihat membisu terdiam, nyatanya sedang beradu dalam pikiran. What you think, is what you feel. Negative thoughts, will produce negative feelings.

Dari segala kenikmatan yang ada di dunia, ketenangan menjadi salah satu yang paling diinginkan manusia. Ketenangan hakiki dapat hadir dari jiwa yang mengingat Rabbnya. Mempercayai janji-Nya bahwa bersamaan dengan kesulitan, selalu ada kemudahan. Bahwa setiap manusia tak pernah diberi ujian di luar batas kemampuannya.

Beruntungnya menjadi seorang Muslim adalah, kita diajarkan bahwa salah satu cabang dari keimanan itu mempercayai qada dan qadar; setiap ketetapan, memiliki ukuran.
Kita diajarkan, bahwa setiap urusan seorang Muslim itu baik. Jika kita mendapat kebaikan lalu kita bersyukur atasnya, maka itu baik bagi kita. Namun jika kita mendapat keburukan lalu kita bersabar atasnya, maka itu juga baik bagi kita.

Kita diajarkan untuk mengucapkan, "Alhamdulillaah 'ala kulli haal", pada sesuatu yang -qadarullaah- di luar kuasa kita. Kita diperintahkan untuk tetap mengagungkan-Nya bahwa, "Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."

Sampai akhirnya aku menyadari bahwa, sumber ketenangan hati dan ketentraman jiwa adalah datang dari perasaan merasa cukup atas qada dan qadar yang kita terima. Kita bersabar dalam derita, tak lupa juga bersyukur dalam nikmat.

Pantaslah kemudian ketenangan disebut sebagai penambah keimanan atas keimanan.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." -- QS. Al-Fath [48]: 4


Depok, 14 Desember 2021
~It's just a bad day, girl. Not a bad life. :)

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...