Skip to main content

Menjaga Setiap Pintu Keberkahan



Dalam raga yang hampir rubuh, ada dari mereka yang berusaha tetap bertahan hingga janji pada saudaranya dapat tertunaikan.
Dalam pikiran yang kalut, sambil menghembus napas pelan, ia berusaha tetap menahan lisannya dari segala keluhan dan umpatan yang sama sekali tak mendatangkan kebaikan.

Dalam kekhawatirannya akan masa yang akan datang, ia tetap berprasangka baik bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diusahakannya.
Dalam kondisi bermuka masam, ia segera menyapa hangat dengan raut wajah menyenangkan karena ia tahu bahwa senyum di hadapan saudaranya adalah sedekah bagi dirinya.

Dalam samarnya batas pergaulan, ia berusaha keras pada pendirian untuk menahan, menjaga kehormatan, dan kemuliaan dirinya, meski tak jarang orang bilang ia terlalu kaku untuk dijadikan seorang teman.
Dalam setiap kebaikan yang disampaikan, ia berusaha menjaga keikhlasan karena ia tahu saat kebaikannya salah ditujukan, maka semuanya akan hangus tak bersisa, tidak berarti apa-apa.

Ia tetap berpegang teguh bahwa tidak ada pemakluman pada keburukan, meski kebanyakan orang telah melakukannya.
Ia percaya bahwa datangnya sebuah keberkahan terjadi atas keridhoan-Nya.
Bagaimana mungkin, Dia ridho pada seorang hamba yang enggan untuk menjadi lebih taat dan bertakwa di hadapan-Nya?
Barang kali, dimudahkannya urusan seorang hamba dikarenakan Dia telah ridho padanya.

Ia merasa, pada setiap keberkahan membuat dirinya tenang.
Sebaik-baik kebaikan adalah yang mengandung nilai keberkahan.
Ia tahu, bahwa sebuah keberkahan hanya dapat diperoleh bila diupayakan.
Bagaimana bisa, sebuah tujuan yang mulia harus dilalui dengan melupakan keberkahan di dalamnya?

Oleh karena itu, jagalah setiap pintu-pintu kebaikan dari ketidakberkahan. Kelak, kita dimasukkan dalam surga bukan bersebab atas banyaknya amalan kita, melainkan karena rahmat dan keridhoan-Nya.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." -- QS. Al-A'raf [7]: 96


Depok, 18 Maret 2022

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...