Dalam pikiran yang kalut, sambil menghembus napas pelan, ia berusaha tetap menahan lisannya dari segala keluhan dan umpatan yang sama sekali tak mendatangkan kebaikan.
Dalam kekhawatirannya akan masa yang akan datang, ia tetap berprasangka baik bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diusahakannya.
Dalam kondisi bermuka masam, ia segera menyapa hangat dengan raut wajah menyenangkan karena ia tahu bahwa senyum di hadapan saudaranya adalah sedekah bagi dirinya.
Dalam samarnya batas pergaulan, ia berusaha keras pada pendirian untuk menahan, menjaga kehormatan, dan kemuliaan dirinya, meski tak jarang orang bilang ia terlalu kaku untuk dijadikan seorang teman.
Dalam setiap kebaikan yang disampaikan, ia berusaha menjaga keikhlasan karena ia tahu saat kebaikannya salah ditujukan, maka semuanya akan hangus tak bersisa, tidak berarti apa-apa.
Ia tetap berpegang teguh bahwa tidak ada pemakluman pada keburukan, meski kebanyakan orang telah melakukannya.
Ia percaya bahwa datangnya sebuah keberkahan terjadi atas keridhoan-Nya.
Bagaimana mungkin, Dia ridho pada seorang hamba yang enggan untuk menjadi lebih taat dan bertakwa di hadapan-Nya?
Barang kali, dimudahkannya urusan seorang hamba dikarenakan Dia telah ridho padanya.
Ia merasa, pada setiap keberkahan membuat dirinya tenang.
Sebaik-baik kebaikan adalah yang mengandung nilai keberkahan.
Ia tahu, bahwa sebuah keberkahan hanya dapat diperoleh bila diupayakan.
Bagaimana bisa, sebuah tujuan yang mulia harus dilalui dengan melupakan keberkahan di dalamnya?
Oleh karena itu, jagalah setiap pintu-pintu kebaikan dari ketidakberkahan. Kelak, kita dimasukkan dalam surga bukan bersebab atas banyaknya amalan kita, melainkan karena rahmat dan keridhoan-Nya.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." -- QS. Al-A'raf [7]: 96
Depok, 18 Maret 2022
Comments
Post a Comment