"Tapi setidaknya kita bisa mengendalikannya," kataku.
Jika ditanya dari mana datangnya cinta, tentu jawabannya adalah dari bahasa cinta yang kau tuangkan dalam kata-kata.
Sekali, dua kali, tak bosan kumembacanya berulang-ulang kali.
Seperti perkataan banyak orang bahwa "apa yang dari hati akan sampai ke hati", memanglah benar adanya.
Untuk sesaat, pertanyaan itu muncul kembali.
"Memangnya apa yang salah dari perasaan ini? Bukankah semua ini adalah fitrah?"
Nyatanya, cinta tidak selalu harus meracuni pikiran, menghilangkan akal, serta memabukkan hati dan perasaan.
Aku tak pandai berbicara tentang cinta.
Yang kutahu tentang cinta hanya sebatas bahwa cinta itu seharusnya menambah ketenangan, bukan menambah ketakutan.
Pada beberapa cinta, ia mampu menghidupkan jiwa-jiwa manusia pada kebaikan, sehingga pantaslah ia untuk diperjuangkan.
Namun, pada beberapa cinta yang lainnya, agaknya dapat dicukupkan dengan mendoakan kebaikan saja untuknya, dan menyerahkan perasaan tersebut kepada Yang Menciptakannya.
Seperti inilah nasihat yang pernah seseorang berikan kepadaku tentang cinta,
"Sehingga untuk urusan bagaimana mereka mencintai, akan menjadi sebuah urusan penting di kemudian hari. Tubuh-tubuh gagah itu akan rapuh jika hatinya hanya mencintai dengan cinta yang salah."
Depok, 8 April 2022

Comments
Post a Comment