Skip to main content

When He Put You In This Situation, He Will Not Leave You Alone

Bagaimana kiranya, ketika dirimu dihadapkan pada suatu situasi yang sama sekali tidak kauharapkan sebelumnya?
Kau menilai bahwa batas dirimu sudah cukup hanya sampai sini.
Tidak mau menambahkannya lagi.
Tapi ternyata, masih ada seorang lagi yang mempercayakan urusannya kepadamu.

Dengan banyaknya aktivitas yang kau jalani, bagimu sulit untuk menentukan kapan waktumu memikirkan umat, dan kapan waktumu memikirkan kepentingan diri sendiri.
Lelah? Tentu saja.
Tapi entah kenapa, tak terbesit dalam hati dan pikiranmu untuk menyerah begitu saja.

Dalam gundahnya batin, sampai-sampai kau tak tahu bagaimana untuk mengatakannya.
Kau hanya bisa menangis sesenggukan dan mengadu kepada Tuhan bahwa dirimu lelah.
Kau berusaha mempersatukan antara perasaan khauf dan raja', lalu kau meminta agar selalu diberi kekuatan, kemudahan, kesempurnaan urusan, dan keistiqomahan kepada-Nya.

Mudah saja bagimu untuk mencari-Nya.
Kau tahu bahwa sesungguhnya Dia adalah dekat.
Kau hanya perlu berdoa memohon kepada-Nya, maka niscaya Dia akan mengabulkan.
Dan kau juga tahu, hanya dengan mengingat-Nyalah hati menjadi tenang.

Kau meyakini bahwa Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu, apalagi membenci dirimu.
Kau percaya bahwa hari kemudian itu lebih baik bagimu dari yang sekarang.
Kau melihat sebuah kemenangan-kemenangan di ujung sana.
Untuk itulah kau tetap bertahan untuk menyibukkan diri pada kebaikan.
Pada satu pintu kebaikan, pasti akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lain.
Kau berprasangka baik bahwa kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya setelah itu.

Ada lillah yang berkah pada lelahmu.
Kau benar-benar mengimani semua itu sebagai balasan kebaikan yang telah dijanjikan Tuhanmu.

~Ramadhan #1
Depok, 3 April 2022

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...