"Apa pun boleh hilang dari kita, tapi prasangka baik sama Allah nggak boleh hilang."
Begitu ucap salah seorang temanku hendak menyemangati.
Seseorang pernah berkata bahwa semakin dewasa, akan datang masanya sebuah idealisme bertemu dengan realita. Sebagai upaya melewati masa usia dewasa awal, aku baru saja mengalaminya.
Standar sosial masyarakat kita sering kali terlalu tinggi.
Membebani setiap diri yang ingin mengikuti.
Memangnya alasan apa yang membuat seseorang rela 'membunuh diri'?
Reputasi? Prestise? Validasi eksistensi?
Kemudian apa yang terjadi jika mereka tidak berhasil mengikuti?
Merasa gagal? Khawatir berlebihan? Lalu mengerdilkan peran dan merasa rendah diri?
Dalam menghadapi kegalauan itu, aku bertanya dengan seorang teman.
"Apakah kalo nanti aku tidak berhasil mengikuti satu standar itu berarti menandakan kurangnya kualitas diri aku?"
"Nggak atuh. Kualitas diri kamu bukan semata-mata ditentukan sama satu faktor kayak gitu. You're more than that, bebski."
Sebuah kalimat dalam buku pernah kubaca.
"Tulislah rencanamu dengan pensil, lalu berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan Allah menghapus rencana-rencanamu dengan rencana-Nya yang jauh lebih baik."
Semalam aku sedikit berkontemplasi.
Merasa amaze dengan mereka yang masih disibukkan dengan urusan umat, meski mungkin ia sendiri sedang terombang-ambing dengan urusan pribadi.
Beruntungnya, aku percaya bahwa Tuhan sedang memihak kepada mereka karena kebaikan yang mereka kerjakan.
Mereka pun percaya bahwa setiap peran kebaikan, sekecil apa pun bentuknya, tak mungkin lepas dari pengawasan dan balasan.
Mereka sadar, dirinya hanyalah fokus melihat satu bentuk ujian di antara ribuan nikmat yang telah diberikan.
Lalu apa yang membuat diri mereka tetap tenang -meski mungkin tidak sepenuhnya benar-benar tenang?
Iman mereka kepada Allah.
Kepercayaannya pada takdir Tuhan.
Selama ini aku selalu memohon agar mendapat keputusan terbaik, versi Allah.
Karena jika karena versi manusia, boleh jadi masih terdapat hawa nafsu yang turut menyelimuti.
Setan tidak mungkin lengah.
Ia selalu mengambil celah menyesatkan manusia melalui kekhawatiran yang dirasakan.
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]
Maka, puncak keberhasilan dari keimanan adalah perasaan tenang.
Bersyukurlah ketika Allah masih mampukan kita untuk berprasangka baik terhadap-Nya.
Melepaskan setiap perasaan takut dan harap di hadapan-Nya.
Karena pada akhirnya, tugas kita sebagai manusia di dunia adalah menghamba dan menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
~written during a weekly conversation with some friends who made my last year in college more valuable.
Depok, 17 Mei 2022

Comments
Post a Comment