Skip to main content

"You're More Than That!"


"Apa pun boleh hilang dari kita, tapi prasangka baik sama Allah nggak boleh hilang."
Begitu ucap salah seorang temanku hendak menyemangati.

Seseorang pernah berkata bahwa semakin dewasa, akan datang masanya sebuah idealisme bertemu dengan realita. Sebagai upaya melewati masa usia dewasa awal, aku baru saja mengalaminya.

Standar sosial masyarakat kita sering kali terlalu tinggi.
Membebani setiap diri yang ingin mengikuti.
Memangnya alasan apa yang membuat seseorang rela 'membunuh diri'?
Reputasi? Prestise? Validasi eksistensi?
Kemudian apa yang terjadi jika mereka tidak berhasil mengikuti?
Merasa gagal? Khawatir berlebihan? Lalu mengerdilkan peran dan merasa rendah diri?

Dalam menghadapi kegalauan itu, aku bertanya dengan seorang teman.
"Apakah kalo nanti aku tidak berhasil mengikuti satu standar itu berarti menandakan kurangnya kualitas diri aku?"
"Nggak atuh. Kualitas diri kamu bukan semata-mata ditentukan sama satu faktor kayak gitu. You're more than that, bebski."

Sebuah kalimat dalam buku pernah kubaca.
"Tulislah rencanamu dengan pensil, lalu berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan Allah menghapus rencana-rencanamu dengan rencana-Nya yang jauh lebih baik."

Semalam aku sedikit berkontemplasi.
Merasa amaze dengan mereka yang masih disibukkan dengan urusan umat, meski mungkin ia sendiri sedang terombang-ambing dengan urusan pribadi.
Beruntungnya, aku percaya bahwa Tuhan sedang memihak kepada mereka karena kebaikan yang mereka kerjakan.
Mereka pun percaya bahwa setiap peran kebaikan, sekecil apa pun bentuknya, tak mungkin lepas dari pengawasan dan balasan.
Mereka sadar, dirinya hanyalah fokus melihat satu bentuk ujian di antara ribuan nikmat yang telah diberikan.

Lalu apa yang membuat diri mereka tetap tenang -meski mungkin tidak sepenuhnya benar-benar tenang?
Iman mereka kepada Allah.
Kepercayaannya pada takdir Tuhan.
Selama ini aku selalu memohon agar mendapat keputusan terbaik, versi Allah.
Karena jika karena versi manusia, boleh jadi masih terdapat hawa nafsu yang turut menyelimuti.

Setan tidak mungkin lengah.
Ia selalu mengambil celah menyesatkan manusia melalui kekhawatiran yang dirasakan.
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

Maka, puncak keberhasilan dari keimanan adalah perasaan tenang.
Bersyukurlah ketika Allah masih mampukan kita untuk berprasangka baik terhadap-Nya.
Melepaskan setiap perasaan takut dan harap di hadapan-Nya.
Karena pada akhirnya, tugas kita sebagai manusia di dunia adalah menghamba dan menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

~written during a weekly conversation with some friends who made my last year in college more valuable.
Depok, 17 Mei 2022


Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...