Skip to main content

Tak Apa Menjadi Tak Sama


Katanya, tidak ada manusia yang benar-benar siap.
Karena sebuah kesiapan tidak akan pernah berhenti pada satu titik.
Ketika seseorang merasa dirinya siap menjalani satu fase, maka ia harus segera kembali bersiap menjalani fase berikutnya.
Begitu seterusnya.

Katanya juga, jangan pernah sibuk mencari kebahagiaan.
Sebab, seharusnya kebahagiaan selalu bermula dari apa yang telah kita punya, bukan pada sesuatu yang memang tiada.
Lalu bagaimana kita bisa menjemput bahagia?
Dengan sabar dan syukur jawabnya.

Semalam, aku telah melontarkan sebuah tanya.
"Apakah tidak apa-apa jika aku tak menjadi sama seperti yang lainnya?"
Tidak ada yang salah menjadi berbeda, karena menjemput segala sesuatu tidak harus dengan cara yang sama.
Bukankah itu artinya kita telah menodai kompleksitas dunia ketika memaksakan semuanya menjadi serupa?

Hari ini, aku melihat mereka, yang sudah lebih dulu melejit selangkah dua langkah di depan mata.
Aku menjadi kembali bertanya, "Apakah aku tidak mempersiapkan diri sebaik mereka?"
Tidak juga. Bisa jadi memang kamu punya tanggung jawab yang lebih banyak dari mereka.
Bukankah kamu juga tak sampai hati melepaskan dan mengabaikan begitu saja salah satu demi sisanya?

Sempat terpikirkan olehku untuk kesekian kalinya.
"Akankah fase setelah ini aku akan lebih siap menghadapinya?"
Ah, siapa peduli dengan fase selanjutnya kalau ternyata aku masih bisa bahagia dengan masa sekarang yang kupunya?
Bersabar atas setiap ujian-Nya, lalu mensyukuri setiap prosesnya.

Memang dunia bukan sepenuhnya tentang kita.
Ia tak bisa menundukkan diri untuk menuruti setiap apa yang kita minta.
Beruntungnya Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan kita, menilai kualitas seorang manusia hanya dari apa yang dikerjakannya.
Benar-benar hanya dari pertanggung jawaban atas apa yang mereka kerjakan di dunia.


Depok, 20 Juni 2022

Comments

Popular posts from this blog

Memaafkan Diri di Masa Lalu

Kadang kala, kita merasa gagal ketika membuat keputusan-keputusan di masa lalu. Ada banyak hal-hal yang kita sesali, lalu kemudian berulang kali menyalahkan diri sendiri. "Seandainya dulu aku seperti ini . . ." "Seandainya aku tidak bertindak seperti itu . . ." Yang kamu tahu, mau kamu ucapkan sebanyak apa pun, kamu tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi. Perasaan kita tidak selalu lurus. Sering kali kita bertindak berdasarkan emosi sesaat yang kita rasakan saat itu. It feels like, "Oh my God, I ruined everything.." Satu hal yang pasti; kita tidak sesempurna itu untuk menjadi manusia. Ketika hati kita tidak tenang, kita menjadi orang yang gegabah. Tidak bijak dalam menilai keadaan. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan dengan begitu cepat, tapi tidak dengan sebagian lainnya. Sedalam apa luka yang kamu punya, selama itu pulalah waktu yang kamu butuhkan untuk merasa pulih. Barang kali, kita membuat kesalahan disebabkan karena ketidaktahuan. K...

Tungguku dan Jenuhmu

Tidak seperti biasa, pukul satu tiga puluh dini hari aku masih terjaga. Menjadi giliranku menertawai bunyi alarm, yang selama ini kukutuki sebab mengejutkanku setiap pukul tiga. Kamu tahu apa yang membuatku terjaga pada malam itu? Sama seperti apa yang dipikirkan perempuan berusia dua puluh dua lainnya. Seandainya aku punya nyali besar untuk mengaku, aku paham betul apa maksud tulisanmu pada enam September lalu. Aku benar-benar tahu soal itu. Begini kan yang kamu mau? Bertukar jiwa lewat permainan kata yang begitu ambigu? Kadang kala aku merasa perlu bersyukur. Ruang dan waktu yang tak terhimpun menjadi satu selalu berhasil menjadi penghubung. Membuat takut dan harap begitu memikat setiap kali dilalu. Coba tebak, menurutmu, mana yang akan terjadi lebih dulu? Rasa sabarku yang terkikis karena terlalu lama menunggu, atau jenuhmu yang tersemai sebab pernah terlalu menggebu? ~ Depok, 05 Januari 2023

Mengomunikasikan Ekspektasi

"Aku inginnya kamu melakukan ini. Kenapa kamu tidak mengerti?" Aku ingat betul hari itu. Satu dari 365 hari yang kulalui, yang kuharap tak pernah terulang kembali di kemudian hari. Kalau bisa, aku akan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kamu yang membaca ini. Menurutmu, apa yang lebih menyedihkan dibanding memenuhi permintaan seseorang, untuk menurunkan kepercayaan yang telah kita beri? Tapi.. Sebentar..  Apakah kepercayaan juga menjadi bagian kecil dari sebuah ekspektasi ? Jika "iya", maka aku lengah. Bagaimana bisa aku selalai itu melupakan kecewa untuk membersamainya? Sebagai pihak yang merasa dikecewakan, aku punya sudut pandang yang ingin dibagi. Kamu harus mengerti, bahwa setiap orang ingin diperlakukan sama, seperti halnya dia memperlakukan orang tersebut. Memprioritaskan dan diprioritaskan. Mengutamakan dan diutamakan. Mengistimewakan dan diistimewakan. Aku tidak tahu padanan kata apalagi yang bisa mem...