Katanya, tidak ada manusia yang benar-benar siap.
Karena sebuah kesiapan tidak akan pernah berhenti pada satu titik.
Ketika seseorang merasa dirinya siap menjalani satu fase, maka ia harus segera kembali bersiap menjalani fase berikutnya.
Begitu seterusnya.
Katanya juga, jangan pernah sibuk mencari kebahagiaan.
Sebab, seharusnya kebahagiaan selalu bermula dari apa yang telah kita punya, bukan pada sesuatu yang memang tiada.
Lalu bagaimana kita bisa menjemput bahagia?
Dengan sabar dan syukur jawabnya.
Semalam, aku telah melontarkan sebuah tanya.
"Apakah tidak apa-apa jika aku tak menjadi sama seperti yang lainnya?"
Tidak ada yang salah menjadi berbeda, karena menjemput segala sesuatu tidak harus dengan cara yang sama.
Bukankah itu artinya kita telah menodai kompleksitas dunia ketika memaksakan semuanya menjadi serupa?
Hari ini, aku melihat mereka, yang sudah lebih dulu melejit selangkah dua langkah di depan mata.
Aku menjadi kembali bertanya, "Apakah aku tidak mempersiapkan diri sebaik mereka?"
Tidak juga. Bisa jadi memang kamu punya tanggung jawab yang lebih banyak dari mereka.
Bukankah kamu juga tak sampai hati melepaskan dan mengabaikan begitu saja salah satu demi sisanya?
Sempat terpikirkan olehku untuk kesekian kalinya.
"Akankah fase setelah ini aku akan lebih siap menghadapinya?"
Ah, siapa peduli dengan fase selanjutnya kalau ternyata aku masih bisa bahagia dengan masa sekarang yang kupunya?
Bersabar atas setiap ujian-Nya, lalu mensyukuri setiap prosesnya.
Memang dunia bukan sepenuhnya tentang kita.
Ia tak bisa menundukkan diri untuk menuruti setiap apa yang kita minta.
Beruntungnya Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan kita, menilai kualitas seorang manusia hanya dari apa yang dikerjakannya.
Benar-benar hanya dari pertanggung jawaban atas apa yang mereka kerjakan di dunia.
Depok, 20 Juni 2022
Comments
Post a Comment