Ya Allah, bolehkah untuk kali ini saja aku memberanikan diri berkata kepada-Mu bahwa dunia yang Kauciptakan ini tidak adil?
Rasanya lelah sekali hidup di dunia ini.
Mendapati orang lain yang hidup lebih baik dari diriku.
Iya, aku iri dengan nikmat-nikmat yang Kautitipkan kepadanya.
Keluarga yang cemara, bergelimang harta, indah rupanya, derajat yang terpandang manusia, ilmu yang tak terkira, baik akhlak dan agamanya.
Rasanya, dia hadir dengan begitu sempurna. Hidupnya terlihat berjalan lebih mudah dari yang lainnya.
Mendapati orang lain yang hidup lebih baik dari diriku.
Iya, aku iri dengan nikmat-nikmat yang Kautitipkan kepadanya.
Keluarga yang cemara, bergelimang harta, indah rupanya, derajat yang terpandang manusia, ilmu yang tak terkira, baik akhlak dan agamanya.
Rasanya, dia hadir dengan begitu sempurna. Hidupnya terlihat berjalan lebih mudah dari yang lainnya.
Kauingin aku berlomba kebaikan dengannya, sedangkan Kautidak menitipkanku perbekalan yang sebanding seperti dirinya.
Jika aku ingin berada di titik yang sepadan, usahaku harus lebih keras, waktu yang kubutuhkan jauh lebih panjang.
Jika aku ingin berada di titik yang sepadan, usahaku harus lebih keras, waktu yang kubutuhkan jauh lebih panjang.
Kaubilang menilai manusia dari apa yang diusahakannya.
Tapi sebagai manusia, sering kali aku sendiri pun tak benar-benar yakin dengan apa yang sedang kukerjakan.
Berbuah pahala belum tentu, menjadi dosa sudah pasti begitu.
Aku tahu semua ini hanya sementara, tapi mengapa harus sesilau ini?
Ya Allah, jika dengan mengatakan seperti ini berarti aku telah meragukan janji-Mu dan tidak mensyukuri ketetapan-Mu, maka ampunilah aku atas ketidaktahuanku.
Brebes, 1 Syawwal 1445 H
Comments
Post a Comment